Sunday, February 28, 2016

Tuesday, November 10, 2015

Thursday, October 17, 2013

Gunung Kalang Bau


Di sebelah Utara obyek wisata Tanjung Batu Pemangkat terdapat sebuah bukit, masyarakat setempat menyebutnya gunung Kalang Bau, sedangkan di sebelahnya terdapat sebuah bukit kecil yang dikenal dengan nama Bukit Belacan. Kedua bukit ini berada di daerah Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas dan lokasi ini berada lansung di pinggiran Laut Latuna, sehingga di kaki bukit ini terdapat hamparan pantai pasir putih dan dihiasi oleh bebatuan sebagai dinding antara bukit di pantai.

Di sisi bukit ini terdapat 2 buah bekas benteng pengintaian milik peninggalan kolonial Belanda yang dapat menampung 3 – 5 orang serdadu, berbentuk tabung yang dilengkapi dengan dua buah lubang pengintai. Benteng ini digunakan untuk mengintai kapal-kapal yang masuk di perairan Laut Natuna yang akan masuk ke Sungai Sambas.

Pada Bukit Kalang Bau di atasnya terdapat sebuah kenceng ( periuk ) besar yang terbuat dari besi dan merupakan wadah untuk menanak nasi. Diperkirakan pada lokasi tersebut dahulunya merupakan tempat persediaan konsumsi bagi serdadu-serdadu Belanda yang berjaga-jaga / melakukan pengintaian terhadap keluar masuknya kapal-kapal di muara Sungai Sambas. Agak menurun ke sisi sebelah kanan terdapat sebuah makam yang telah berumur lebih dari 2 abad, yaitu makam ulama Syech Ali Abubakar, seorang penyiar agama Islam di daerah Kerajaan Sambas. Ulama ini berasal dari daerah Kelang ( Malaysia ) dan lebih dikenal dengan nama Guru Ali. Dari sinilah nama Gunung Kelang Bau berasal.

Menurut sejarahnya, suatu ketika setelah beberapa lama bermukim di daerah Kerajaan Sambas, Syech Ali Abubakar merasa rindu kepada sanak familynya di Kerajaan Kelang dan berkeinginan untuk menjenguknya. Setelah berhari-hari beliau berlayar bersama muridnya, di tengah perjalanan beliau menderita sakit keras. Dalam keadaan seperti itu beliau sempat berpesan, seandainya Tuhan segera berkenan memanggilnya, beliau minta dimakamkan di daerah Kerajaan Sambas. Dan memang sudah merupakan takdir Illahi, beliau meninggal dunia ketika hampir tiba di Malaysia ( yaitu di sekitar wilayah Singapura ). Maka sesuai amanatnya, jenazahnya dibawa kembali ke wilayah Kerajaan Sambas dan dimakamkan di daerah bebukitan, tepatnya di daerah muara Sungai Sambas.

Menurut penuturan penduduk dari mulut ke mulut, bahwa selama 7 hari setelah beliau dimakamkan, apabila saat senja tiba ( waktu maghrib ) maka di sekitar makam tersebut tercium semerbak bau harum. Untuk itulah sebagai tanda terimakasih dan mengenang jasa-jasa beliau selagi masih hidup. Oleh sebab itu, maka bukit / gunung tempat beliau dimakamkan disebut gunung “ Kalang Bau “. Kalang berasal dari kata daerah kelahirannya yaitu Kelang, sedangkan kata Bau berasal dari bau harum yang dipancarkan di sekitar makam tersebut. Beitulsh sejarahnya kenapa gunung / bukit yang berada di muara Sungai Sambas itu dinamakan Gunung Kalang Bau.

Pada lokasi gunung Kalang Bau dan sekitarnya, banyak ditumbuhi semak-semak belukar dengan pepohonan yang besar dan tinggi yang dapat menciptakan pemandangan yang indah serta menarik untuk dikunjungi. Hal ini sangat sesuai untuk wisatawan yang berjiwa adventure.

sumber: http://nia-mely.blogspot.com

Perjuangan Pemuda Pemangkat Membela Kemerdekaan

Berita tentang kemerdekaan Republik Indonesia sampai juga ke seluruh masyarakat kawedanan Pemangkat dengan datangnya seorang pemuda bernama M.Akir.Ia berasal dari Semparuk dan merantau ke Semarang.Pertengahan Oktober dia datang ke Pemangkat menyampaikan informasi bahwa Indonesia telah merdeka,diproklamirkan oleh tanggal 17 Agustus oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
Urai Bawadi,Daim Harun,M.Akir dan beberapa kawan kawannya mufakat membentuk “ Kesatuan Aksi Pemuda Pemangkat” yang di pimpin oleh Urai Bawadi,Daim Harun,M.Akir dan beberapa pemuda dan tokoh masyarakat sebagai pembantu/seksi.Kesatuan Aksi Pemuda Pemangkat ini bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia,Kegiatan mereka:
a.       Menyampaikan kepada pemuda dan rakyat di kampung kampung bahwa Indonesia telah merdeka.
b.      Mengibarkan bendera Merah Putih serta menyanyikan lagu Indonesia Raya perorangan maupun beramai ramai
c.       Merusak jembatan yang menghubungkan  Pemangkat ,Singkawang dan Pemangkat,Sambas di pimpin oleh Abdul Samad,Mustafa di bantu oleh Matnur,H.Badaruddin dan Syaifuddin Jahri.
d.      Pemuda pemuda ex Heiho ditugaskan mengadakan perlawanan apabila tentara Belanda memasuki kota Pemangkat.
Pada tanggal 25 Oktober 1945 berkibar bendera Merah Putih di tiap-tiap rumah penduduk di Kampung Banjar,Pemangkat sehari penuh.Tanggal 29 Oktober setelah kejadian demonstrasi di Sambas,Rumah Dain Harun yang menjadi markas Kesatuan Aksi Pemuda Pemangkat yang terletak di jalan Nusantara (sekarang) diserbu oleh tentara Belanda ( NICA ) untuk menangkap Dain Harun dan pejuanng lainnya.Dain Harun dan kawan – kawannya sempat melarikan diri dan bersembunyi di rumah Khui Lim ( kantor anim/listrik ) di pasar lama,Pemangkat.Subuh dini hari tanggal 30 Oktober 1945 Dain Harun di jemput oleh dua pejuang yakni Doleng alias Basuni dan Amat menaiki sebuah sampan Dain Harun dibawa ke Teluk Pakuk Tanjung Kaduk,Pemangkat.Di situ sudah disediakan perahu motor yang siap berangkat ke Singapura,setelah beberapa hari Dain Harun tinggal di Singapura ia kemudian berangkat ke Tegal ,Jawa Tengah.
Pada tanggal 26 Oktober 1945 Holdi Ex Heiho,Lani B,Urai Banul,Daeng Amat,Rajak Batu,Naim Bakar dan Bulyan Mustafa diperintahkan merobohkan jembatan-jembatan di jalan jurusan Pemangkat-Singkawang (sekarang jalan Mohammad Sohor).Sabotase tersebut gagal karenasalah seorang dari dari anggota sabotase,Rajali ex Heiho sudah ditangkap oleh tentara Belanda di pasar Pemangkat karena ketahuan membawa granat yang sudah di siapkan untuk menunggu pulang nya tentara NICA dari Sambas.
Karena di Pemangkat tidak mungkin lagi bergerak untuk melanjutkan perjuangan akibat gencarnya mata mata NICA,maka pemuda dari Pemangkat melanjutkan perjuangannya ke Jawa,melalui Singapura.Untuk ke Singapura menggunakan Kapal Motor bernama “ Bukan Main” yang di nakodai Dolah,dan Mualim oleh A.Majid M.Yunus.
Pemuda di berangkatkan bertahap,karena menghindari kecurigaan mata mata NICA dan keberangkatan ke Singapura melalui Kuala Pemangkat.Di antaranya ada yang berangkat bersama Holdi ex Heiho,keberangnkatan Holdi membawa surat dari Urai Bawadi dan Urai Zakaria untuk menemui perwakilan Kalimantan Barat di Singapura yakni Dain Harun dan Daeng Putih.Setelah beberapa minggu di Singapura,pemuda Pemangkat diberangkatkan ke pulau Jawa tujuan Tegal denga Kapal Perang Angkatan Laut Indonesia.
Yang diberangkatkan ke Jawa melalui Singapura tahun 1946 dan 1947 adalah Daim Harun,Murni Gafar,Zainuddin,M.Thoyib Mustafa,Sy.Syalim Sy.Ambun,Ibarahim Bujang,Ali Ahmad Gazali,Doleng Naim.Sementara Holdi di perintahkan oleh Daeng Putih untuk pulang ke  Pemangakat untuk melatih para pejuang dan membawa dokumen perjuanagn serta senjata menggunakan perahu bugis dinakodai oleh Hakim dan masuk berlabuh di Kuala Pemangkat.Tidak lama kedatangan Holdi ia ditangkap dan dipenjarakan di Pemangkat.
Untuk menghindari pandangan mata mata Belanda,maka Urai Arif Mahmud berangkat ke Singapura melalui kampung Sedau Singkawang,juga untuk meneruskan perjuangan dan menemui kawan kawan perjuangan dari kelompok “ Tengkorak Putih ”,Jayadi Saman di Singapura.Setelah beberapa lama di Singapura ia kembali ke Pemangkat untuk memantau kawan pejuang.Tuidak beberapa lama di Pemangkat Urai Arief Machmud di tangkap polisi Belanda dan rumahnya di geledah unutk mencari senjata karena mereka di laporkan membawa senjata.Ia pun kemudian di jebloskan di penjara Pontianak.